Perempuan di Balik Tinta
Posted in |
di
06:37
Hari ini tepatnya tanggal lima belas mei dua ribu dua belas, setidaknya dari tulisan inilah aku akan memulai bercerita tentang hal yang menjadi cita-cita selama belasan tahun, mungkin ini juga termasuk upayaku dalam mengejar mimpi tersebut.
Ketika masih berada di bangku taman kanak-kanak, untuk pertama kalinya aku menulis sebuah surat. Surat itu kutujukan kepada ibu yang sangat kukagumi. Dengan gaya tulisan dan tata bahasa yang antah berantah ala anak TK, aku menyelipkan surat tersebut di saku pakaian ibu. Bukannya terbaca, surat tersebut malah masuk dalam bak bersama tumpukan pakaian kotor yang hendak dicuci oleh ibu. Kuambil kembali surat yang kutulis. Kutunjukkan surat tersebut pada kakek yang sudah sangat tua, dan ternyata beliau tak dapat membaca tulisanku. Dari situ aku sadar bahwa ternyata aku suka menulis, bahkan sebelum aku benar-benar bisa menulis. Sekedar suka.
Kemudian menginjak bangku sekolah dasar atau SD. Dari hanya sebuah surat, aku mulai membuat puisi. Setidaknya beberapa kumpulan kata dengan gaya bahasa yang tak biasa. Awalnya memang bertemakan tentang ibu, lalu tentang guru hingga akhirnya mulai berani memasukkan unsur cinta di dalamnya. Yah, meskipun aku tidak tahu pasti bagaimana cinta itu. Mungkin ratusan kali sudah aku menulis puisi. Di setiap buku tugas di mata pelajaran yang membosankan, di setiap bagian kosong lembar kerja siswa, di sisi buku gambar yang sengaja kukosongkan untuk lebih menghidupkan gambar, di buku-buku ayah yang sudah tak terpakai, di tumpukan kertas kosong milik kakak, hingga buku catatan belanja ibu yang sengaja kucuri karena kehabisan tempat untuk menuangkan kata-kata. Aku tergila-gila dengan pensil, dengan bolpoint dan juga kertas. Aku juga mewarisi kecintaan ayah akan gambar. Ya, benar. Aku juga mencintai lukisan, tapi aku benci mewarnai. Aku tak pernah bisa menggoreskan pensil warna ke dalam gambar dengan rapi, juga tak bisa menuangkan cat air dengan baik ke dalam gambar. Untuk itu aku menyukai sketsa. Tanpa warna.
Akhirnya aku duduk di bangku sekolah menengah pertama. Di masa inilah aku pertama kali menuliskan cerita pendek hingga cerita panjang, bahkan sebuah Novel. Berkisah tentang apa? Tentang cinta pertama yang tak kusadari sedari dulu. Setiap hari, setidaknya satu paragraf kutulis bagaimana kulewati hari itu bersama ‘Cinta Pertama’ku. Tentu tidak secara terang kutuliskan namanya dalam bukuku, aku juga membuatnya sedikit berbeda dengan keadaan nyata yang kualami. Sungguh konyol ketika kubaca kembali cerita tersebut, tapi dengan gaya bahasa berbeda dan perasaan yang masih tersimpan, aku bisa menitihkan air mata ketika membacanya. Lupakan, mari kembali kepada cita-citaku.
Masih di bangku sekolah menengah pertama. Seorang guru membangkitkan kembali mimpi yang pernah diterbangkan ayah ketika masih kecil dulu. Mimpi indah tentang daratan Eropa yang begitu megah dalam bayangan anak remaja berusia sebelas tahun. Aku jatuh cinta dengan bahasa. Bukan hanya sastra, tapi juga bahasa inggris yang menjadi modal untuk berkomunikasi dengan orang-orang hebat di luar sana. Lebih-lebih ketika hendak menginjak semester dua di kelas tujuh, aku mulai menyukai dan mengidolakan seorang pembalap hebat dari daratan Eropa. Bukan inggris, namun spanyol, Daniel Pedrosa namanya. Antusiasku untuk menginjakkan kaki ke daratan Eropa semakin memuncak. Aku mulai berangan menjadi seorang wartawan, menulis atau membawakan berita hebat. Kemudian aku juga berangan menjadi seorang tour guide yang mampu berkomunikasi dengan orang-orang hebat dari berbagai penjuru dunia, lalu menceritakan semua pengalaman hebat dalam bentuk novel ataupun cerita pendek. Aku tergila-gila dengan mimpiku. Mimpi yang kubawa hingga berada di bangku sekolah menengah atas.
Di bangku sekolah menengah atas. Lebih dalam kuketahui apa yang menjadi inginku. Lepas dari bidang keilmuan alam yang kutekuni, aku tertarik dengan dunia politik yang kacau. Dari mata pelajaran Pendidikan Kewarga Negaraan, aku mengetahui banyak tentang apa itu politik, apa itu pemerintahan, bagaimana mereka berpengaruh dan bekerja. Lalu sebuah novel berjudul “Kisah Langit Senja” karangan Bubin Lantang yang kupinjam dari seorang teman, aku mulai benar-benar ingin menjadi seorang wartawan di masa depan seperti yang dilakukan oleh tokoh ‘Langit Merah’ di dalam novel “Kisah Langit Merah”. Aku terobsesi menjadi wartawan yang bekerja di desk politik. Kukorbankan rasa penasaranku tentang misteri tata surya yang selalu mengganggu tidur malamku. Menjadi ilmuan NASA sudah kulupakan, kuambil langkahku untuk mempelajari lebih dalam tentang Politik. Aku mendapat kesempatan mengikuti SNMPTN undangan. Ada konflik dalam pemilihan Perguruan tinggi negeri dan jurusan. Ayah menginginkanku mengambil jurusan Teknik geofisika dan bekerja dengannya di masa depan, ibu mengingginkanku menjadi guru dan memasuki Universitas yang sama seperti kakak, sedang aku sendiri menginginkan menjadi wartawan desk politik. Namun pada akhirnya ayah dan ibu memberiku kesempatan menentukan pilihanku sendiri, walau sedikit masih dipengaruhi oleh keinginan ayah. Aku tidak lolos SNMPTN undangan, ayah marah dan ibu kecewa. Tuhan masih memberiku kesempatan mengikuti seleksi tulis masuk perguruan tinggi negeri. Kuyakinkan ayah dan ibu bahwa aku serius dengan cita-citaku. Sebuah perjuangan yang jujur saja membuatku stress. Tekanan agar lolos SNMPTN tulis, perasaan takut dianggap bodoh dan mengecewakan ibu, serta keinginan lebih baik dari kakak justru membuat mental semakin drop. Aku melewati tes SNMPTN tulis dengan ragu, namun pada akhirnya masuk pada pilihan pertama yang kujanjikan pada ayah dan ibu. Aku resmi menjadi salah satu mahasiswi Universitas negeri yang cukup ternama di jawa timur. Aku percaya itu adalah cara tuhan memberiku ijin menjadi wartawan desk politik, melanjutkan mimpiku sewaktu duduk dibangku sekolah menengah pertama.
Aku menjadi bagian dari mahasiswi ilmu politik. Namun yang terpenting saat itu, aku telah berubah status dari sekedar siswi menjadi mahasiswi. Aku mengikuti organisasi, sebut saja namanya AIESEC sebuah organisasi internasional yang bertujuan membawa perdamaian. Tentu saja untuk masuk, kalian harus melewati seleksi administrasi, seleksi tulis dan wawancara. Dalam sebuah acara untuk penyambutan anggota baru AIESEC atau AIESECer yang disebut LCC, aku mulai tahu bahwa yang menjadi mimpiku bukanlah wartawan, aku bahkan belum pernah menulis sebuah artikel yang layak untuk dibaca. Yang benar-benar kuimpikan adalah menjadi penulis, menulis dan menulis.
Penulis tak bermasa depan! Setidaknya itu komentar yang kudapat dari orang-orang. Kupikir kembali tentang mimpiku sebagai penulis. Lalu kudapati sebuah solusi, bahwa tak selamanya mimpi harus diwujudkan menjadi pekerjaan. Aku bisa menulis kapanpun, dimanapun tanpa mengganggu pekerjaanku kelak. Aku mencintai tulisan seperti halnya dulu. Selama ini aku hanya menulis dan menulis tanpa mempublikasikannya, lalu beberapa waktu lalu kuberanikan mengirim salah satu novelku ke suatu lembaga bernama Plot Point. Aku masih menunggu apakah novelku akan ditebitkan ataukah tidak. Sementara itu, aku sedang dalam tahap menyelesaikan novel lainnya. Aku sedikit ragu dengan judulnya “Sayap Tunggal”, mungkin aku akan merubahnya ketika sudah menemukan judul yang lebih tepat.
Inilah jiwaku, menulis. Tak peduli pekerjaan apa yang kudapatkan kelak, aku ingin tetap menulis, aku masih bisa menulis dan aku mencintainya. Tak peduli orang akan menyukainya atau tidak. Tak peduli orang akan mengagumi tulisanku atau malah menertawakannya, aku akan tetap menulis. Aku akan menulis apapun yang ada di dalam pikiran untuk dituangkan, entah itu dalam bentuk pesan berupa puisi yang sering kukirim untuk teman-teman di kontak telepon genggamku, dalam bentuk cerita pendek seperti yang dulu sering kulakukan, dalam bentuk novel seperti yang saat ini sedang kucoba untuk selesaikan, maupun naskah film ketika mungkin novelku layak untuk difilmkan. Aku tak berharap banyak dari tulisan-tulisanku, aku hanya puas bisa menuliskannya. Setidaknya ketika aku mati nanti, aku telah membiarkan setengah jiwaku tetap hidup dalam tulisan.
just write
Posted in |
di
19:53
hari ini. iya, kumulai dari hari ini. aku menengok ke belakang. dari mulai bagaimana aku mendapatkan teman, sahabat, seseorang yang aku sayangi, dan mimpi, sampai aku kehilangan mereka. biar kujelaskan, semua yang ku alami dan semua yang ada dipikiranku.
awalnya, aku dapatkan apa yang aku butuhkan. mulai dari teman, sahabat dan orang-orang yang aku sayangi. aku punya itu semua. yang aku mau, mereka hanya memperhatikanku, mendengarkanku bercerita dan mensupportku saat bertanding. aku pikir, aku butuh itu semua, dan aku yang paling membutuhkannya. aku hanya mau perhatian mereka untukku, bukan yang lain. hingga kahirnya, datanglah seseorang yang mencuri sahabat-sahabatku. menyita seluruh perhatian mereka, dan aku hanya sendiri.
aku berkomitment, jika aku tak ingin kehilangan sahabat-sahabatku, maka aku juga tak akan pernah membiarkan mereka merasa sendiri, karena mereka selalu punya aku. SEPENUHNYA DIRIKU.
tapi, bukankah itu pilihan mereka untuk meningalkan aku. mungkin aku memang egois, childish. tapi, aku punya komitment dan memegang teguh komitment itu.
mungkin atas dasar itu aku menutup diriku dari semua orang-orang baru. agar tak ada yang merampas milikku lagi.
tak ada tambahan anggota dalam persahabatan. jika satu pergi, maka biarkan kursinya tetap kosong. agar suatu saat jika dia kembali, dia masih punya tempat yang sama, karena aku tak akan pernah meninggalkannya.
aku mau persahabatan yang sejati, sampai mati.
lalu mimpi.
awalnya kurakit mimpiku sebagai seorang Penulis dan Penyair. aku belajar menulis dan menghasilkan sebuah karya bahkan sebelum aku bisa menulis. lalu, semuanya tak sejalan ketika aku mulai dewasa. mulai mengerti tentang masa depan. kuubah impian itu menjadi seorang ilmuan NASA dan seorang Journalist. tapi beberapa tahun kusadari, aku benci belajar, tidak sepantasnya aku bermimpi jadi seorang ilmuan. mimpiku sebagai journalist masih berlanjut hinga kini. namun, aku mau jadi journalist yang seperti tokoh "Langit Merah" yang kubaca. aku mau jadi orang Jujur. lalu kumulai untuk melakukan semuanya dengan Jujur. tapi disisi lain, satu hal menuntutku kembali pada mimpiku sebagai ilmuan.
aku sedang belajar tentang ilmu yang tak pasti untuk menjadi journalist. dan saat ini, keteguhanku di uji. haruskah aku berpindah pada cita-citaku sebelumnya dan belajar tentang segala sesuatu yang pasti. aku bimbang di satu persimpangan jalan, dan aku tak tahu arah mana yang terbaik.
awalnya, aku dapatkan apa yang aku butuhkan. mulai dari teman, sahabat dan orang-orang yang aku sayangi. aku punya itu semua. yang aku mau, mereka hanya memperhatikanku, mendengarkanku bercerita dan mensupportku saat bertanding. aku pikir, aku butuh itu semua, dan aku yang paling membutuhkannya. aku hanya mau perhatian mereka untukku, bukan yang lain. hingga kahirnya, datanglah seseorang yang mencuri sahabat-sahabatku. menyita seluruh perhatian mereka, dan aku hanya sendiri.
aku berkomitment, jika aku tak ingin kehilangan sahabat-sahabatku, maka aku juga tak akan pernah membiarkan mereka merasa sendiri, karena mereka selalu punya aku. SEPENUHNYA DIRIKU.
tapi, bukankah itu pilihan mereka untuk meningalkan aku. mungkin aku memang egois, childish. tapi, aku punya komitment dan memegang teguh komitment itu.
mungkin atas dasar itu aku menutup diriku dari semua orang-orang baru. agar tak ada yang merampas milikku lagi.
tak ada tambahan anggota dalam persahabatan. jika satu pergi, maka biarkan kursinya tetap kosong. agar suatu saat jika dia kembali, dia masih punya tempat yang sama, karena aku tak akan pernah meninggalkannya.
aku mau persahabatan yang sejati, sampai mati.
lalu mimpi.
awalnya kurakit mimpiku sebagai seorang Penulis dan Penyair. aku belajar menulis dan menghasilkan sebuah karya bahkan sebelum aku bisa menulis. lalu, semuanya tak sejalan ketika aku mulai dewasa. mulai mengerti tentang masa depan. kuubah impian itu menjadi seorang ilmuan NASA dan seorang Journalist. tapi beberapa tahun kusadari, aku benci belajar, tidak sepantasnya aku bermimpi jadi seorang ilmuan. mimpiku sebagai journalist masih berlanjut hinga kini. namun, aku mau jadi journalist yang seperti tokoh "Langit Merah" yang kubaca. aku mau jadi orang Jujur. lalu kumulai untuk melakukan semuanya dengan Jujur. tapi disisi lain, satu hal menuntutku kembali pada mimpiku sebagai ilmuan.
aku sedang belajar tentang ilmu yang tak pasti untuk menjadi journalist. dan saat ini, keteguhanku di uji. haruskah aku berpindah pada cita-citaku sebelumnya dan belajar tentang segala sesuatu yang pasti. aku bimbang di satu persimpangan jalan, dan aku tak tahu arah mana yang terbaik.
I HATE YOU THE MOST.
Posted in |
di
04:08
If i got so tire, will you ask me for rest?
if i ill, will you treat me as you treat your new friend.
if i die, will you come to see for the last time?.
i did my best for you.it's because i care.you'll never find people that cares you so much,like what i've done.
i should realize that you never caring me.i should realize that you never look at me.
how stupid i am.what a pity.
actually,i get jealous when found you wrote on your new friend's wall "how are you?what about your activities.are that annoying?".
can you see me cry?
you never ask me that words.i hate your NEW FRIENDS.I HATE THEM THE MOST.
i hate peoples that grab my best friends.
but now,i know who should i hate the most!
YOU! yah,you are people that i should hate.
hear me!
i'll do what you did,and try to give back what you gave.
when you don't care,i'll do the same.
I HATE YOU!
if i ill, will you treat me as you treat your new friend.
if i die, will you come to see for the last time?.
i did my best for you.it's because i care.you'll never find people that cares you so much,like what i've done.
i should realize that you never caring me.i should realize that you never look at me.
how stupid i am.what a pity.
actually,i get jealous when found you wrote on your new friend's wall "how are you?what about your activities.are that annoying?".
can you see me cry?
you never ask me that words.i hate your NEW FRIENDS.I HATE THEM THE MOST.
i hate peoples that grab my best friends.
but now,i know who should i hate the most!
YOU! yah,you are people that i should hate.
hear me!
i'll do what you did,and try to give back what you gave.
when you don't care,i'll do the same.
I HATE YOU!
FELIZ CUMPLEANOS DANI.
Posted in
Label:
I
|
di
18:01
I dont know what to say.but the only words in my mind is "feliz cumpleanos".in early morning i wake up,a moment when most of people fast a sleep.because i wanna celebrate your birthday on facebook and twitter.though,i always dreaming that i could celebrate your birthday with you,but no matter whom i celebrate.i also pray to my god,to keep you safe,bless you in everywhere and everytime,love you and make your dream come true.
i proud of you and proud to be your fans.pedrosistas in indonesia make projects for your birthday.such as make #happyBdayDani be trending topic in twitter,design a special jersey about you and so manythings else.we love you and we proud of you.be a better person,dani.
Te quiero.:)
i proud of you and proud to be your fans.pedrosistas in indonesia make projects for your birthday.such as make #happyBdayDani be trending topic in twitter,design a special jersey about you and so manythings else.we love you and we proud of you.be a better person,dani.
Te quiero.:)
MK politik UNAIR 2011
Posted in |
di
06:26
Malam keakraban mahasiswa(MK atau ospek jurusan) baru ilmu politik Universitas Airlangga 2011 yang dilaksanakan tanggal 16-18september 2011 itu terasa sangat menjengkelkan,memancing emosi,menyesakkan sekaligus sesuai namanya,yaitu mengakrabkan.Yap,betul.seperti ospek-ospek pada umumnya,kami,para MABA 2011 di bentak-bentak,di marah-marahi dan selalu disalahkan.
"pasal 1,senior selalu benar.pasal 2 jika terjadi kesalahan kembali ke pasal pertama."
itu yang mereka katakan,dan bodohnya di awal,kami MABA yang mengikuti MK menyetujui peraturan itu karena tidak ada yang berani membantah ataupun menentang.
hal yang sangat menjengkelkan dimulai dari ketika aku dan teman-teman MABA sampai ke tempat dilaksanakannya ospek.Trawas,Mojokerto.
Sampai malam,capek,takut,kedinginan,lapar,dibentak-bentak dan parahnya banyak kata-kata kasar khas 'arek jawa timuran' tertangkap telingaku.so,that was completed.-__-"
Untuk hukuman dan peraturan apapun yang kami tentang,kami dikembalikan pada persetujuan awal.Yep,mereka selalu benar.
So what to do?
Apa yang ada di pikiranku waktu itu tentang mereka.cukup 1 kata "FU*K".
Yang paling membuatku marah adalah ketika ada beberapa senoir mempermasalahkan foto di ID cardku yang memakai kerudung tetapi waktu ospek aku tidak memakainya.
"itu foto sisa hari raya kak.saya baru mencoba memakai kerudung."aku menjelaskan.
Kalian tahu apa respon mereka.aku dibilang tidak konsisten,aku dibilang TERORIS,aku dibilang memalukan agamaku.
Waktu itu aku berpikir memakai kerudung bukan sustu hal yang mudah.harus mantapkan hati agar perkataan dan perbuatan benar-benar mencerminkan wanita muslimah.
Bukan sekedar memakai kerudung,lalu dengan mudahnya mengatakan bahasa kasar khas ala 'jawa timuran',teriak sana-sini,marah-marah dan sebagainya.
Yah,dari situ kalian bisa menyimpulkan apa yang aku pikirkan saat itu.:P
Tapi benar-benar mujarab,dari yang awalnya aku hanya berbicara dan tertawa dengan kelompok kecilku seperti nia,vivi,tina,uki,dan nirmala.akibat MK aku bisa mengenal jauh teman-teman seAngkatanku.susah bersama,bercanda,tertawa and so many things else we done.
Benar!senasib sepenanggungan membuat kita saling care,menungkatkan solidaritas dan loyalitas antar sesama.Tapi yang paling mengena adalah pada acara terakhir,yaitu menjelang INISIASI dimana kita resmi bergabung dalam ikatan mahasiswa politik UNAIR.
KONFLIK!
Beberapa dari kita hampir saja tidak diloloskan dalam MK dan di wajibkan mengikuti lagi di tahun selanjutnya.so,it was illogikal.there's no best reason they gave.
setiap ada pertanyaan.
"kita mengikuti MK bersama-sama,sama-sama menjalankan peraturan dan prosedur yang panitia rancang,tapi kenapa kita dapat hasil yang berbeda?".
Dan tidak ada jawaban untuk itu karena senior dan dewan adat berkuasa penuh untuk acara itu.Spontanitas,beberapa dari MABA yang lolos menolak untuk di INISIASI.
"kami berangkat bersama,pulangpun harus bersama.kami memulai bersama,dan akan menutup acara itu dengan bersama dengan hasil yang sama."
Semua kompak untuk tidak di INISIASI.
But,something happened.beberapa dari kita lalu memilih sutuju untuk di INISIASI ketika ditanya
"mau di INISIASI atau tidak?".
Komitmen yang kami bentuk di awal akhirnya di kesampingkan.tinggal aku,triastika dan ghea yang tersisa.kami memilih untuk tetap tidak di INISIASI jika satu saja dari kami tidak di INISIASI.
Jujur saja,waktu itu rasa solidaritasku benar-benar di uji dan aku hampir saja dikalahkan oleh sifat individualismeku.
Dan akhirnya,ujian itu selesailah sudah.Kami semua di INISIASI.
"alhamdulillah. .".dalam hatiku aku bersyukur.
Ternyata mereka menguji seberapa besar rasa solidaritas kami,rasa peduli kami yang sebelum INISIASI telah di ajarkan.
Beberapa hal penting yang bisa aku ambil adalah, "tidak semua pengorbanan mendapatkan apresiasi yang baik dari mereka yang di perjuangkan."
Dan selesailah sudah MK hari ini.HOREEEEE. . . :D
"pasal 1,senior selalu benar.pasal 2 jika terjadi kesalahan kembali ke pasal pertama."
itu yang mereka katakan,dan bodohnya di awal,kami MABA yang mengikuti MK menyetujui peraturan itu karena tidak ada yang berani membantah ataupun menentang.
hal yang sangat menjengkelkan dimulai dari ketika aku dan teman-teman MABA sampai ke tempat dilaksanakannya ospek.Trawas,Mojokerto.
Sampai malam,capek,takut,kedinginan,lapar,dibentak-bentak dan parahnya banyak kata-kata kasar khas 'arek jawa timuran' tertangkap telingaku.so,that was completed.-__-"
Untuk hukuman dan peraturan apapun yang kami tentang,kami dikembalikan pada persetujuan awal.Yep,mereka selalu benar.
So what to do?
Apa yang ada di pikiranku waktu itu tentang mereka.cukup 1 kata "FU*K".
Yang paling membuatku marah adalah ketika ada beberapa senoir mempermasalahkan foto di ID cardku yang memakai kerudung tetapi waktu ospek aku tidak memakainya.
"itu foto sisa hari raya kak.saya baru mencoba memakai kerudung."aku menjelaskan.
Kalian tahu apa respon mereka.aku dibilang tidak konsisten,aku dibilang TERORIS,aku dibilang memalukan agamaku.
Waktu itu aku berpikir memakai kerudung bukan sustu hal yang mudah.harus mantapkan hati agar perkataan dan perbuatan benar-benar mencerminkan wanita muslimah.
Bukan sekedar memakai kerudung,lalu dengan mudahnya mengatakan bahasa kasar khas ala 'jawa timuran',teriak sana-sini,marah-marah dan sebagainya.
Yah,dari situ kalian bisa menyimpulkan apa yang aku pikirkan saat itu.:P
Tapi benar-benar mujarab,dari yang awalnya aku hanya berbicara dan tertawa dengan kelompok kecilku seperti nia,vivi,tina,uki,dan nirmala.akibat MK aku bisa mengenal jauh teman-teman seAngkatanku.susah bersama,bercanda,tertawa and so many things else we done.
Benar!senasib sepenanggungan membuat kita saling care,menungkatkan solidaritas dan loyalitas antar sesama.Tapi yang paling mengena adalah pada acara terakhir,yaitu menjelang INISIASI dimana kita resmi bergabung dalam ikatan mahasiswa politik UNAIR.
KONFLIK!
Beberapa dari kita hampir saja tidak diloloskan dalam MK dan di wajibkan mengikuti lagi di tahun selanjutnya.so,it was illogikal.there's no best reason they gave.
setiap ada pertanyaan.
"kita mengikuti MK bersama-sama,sama-sama menjalankan peraturan dan prosedur yang panitia rancang,tapi kenapa kita dapat hasil yang berbeda?".
Dan tidak ada jawaban untuk itu karena senior dan dewan adat berkuasa penuh untuk acara itu.Spontanitas,beberapa dari MABA yang lolos menolak untuk di INISIASI.
"kami berangkat bersama,pulangpun harus bersama.kami memulai bersama,dan akan menutup acara itu dengan bersama dengan hasil yang sama."
Semua kompak untuk tidak di INISIASI.
But,something happened.beberapa dari kita lalu memilih sutuju untuk di INISIASI ketika ditanya
"mau di INISIASI atau tidak?".
Komitmen yang kami bentuk di awal akhirnya di kesampingkan.tinggal aku,triastika dan ghea yang tersisa.kami memilih untuk tetap tidak di INISIASI jika satu saja dari kami tidak di INISIASI.
Jujur saja,waktu itu rasa solidaritasku benar-benar di uji dan aku hampir saja dikalahkan oleh sifat individualismeku.
Dan akhirnya,ujian itu selesailah sudah.Kami semua di INISIASI.
"alhamdulillah. .".dalam hatiku aku bersyukur.
Ternyata mereka menguji seberapa besar rasa solidaritas kami,rasa peduli kami yang sebelum INISIASI telah di ajarkan.
Beberapa hal penting yang bisa aku ambil adalah, "tidak semua pengorbanan mendapatkan apresiasi yang baik dari mereka yang di perjuangkan."
Dan selesailah sudah MK hari ini.HOREEEEE. . . :D
to : ICHI
Posted in |
di
20:20
Bukankah hampir setengah tahun aku kehilangan kamu.tapi perasaan bersalah itu tak pernah bisa hilang.selalu dan selalu memimpikan bisa menjalani hari-hari bersamamu seperti dulu.membuatmu tersenyum,membagi mimpi,dan menemanimu melakukan petualangan gila itu.aku mengunjungi makammu tanggal 5 kemarin.sepertinya kamu hadir disana,tapi mengapa tak memberitahuku tentang keberadaanmu?.aku sungguh sangat merindukanmu seperti halnya aku merindukan waktuku bertemu denganmu nanti.
Semoga nanti kita dipertemukan kembali dalam satu bimbingan yang menyenangkan.semoga aku masih bisa membalas semua kebaikanmu yang tak pernah kusadari sebelumnya.
A hug for you,my ichi.
Semoga nanti kita dipertemukan kembali dalam satu bimbingan yang menyenangkan.semoga aku masih bisa membalas semua kebaikanmu yang tak pernah kusadari sebelumnya.
A hug for you,my ichi.
Bimbang setelah mantap.
Posted in |
di
00:28
Setelah mantap mengambil jurusan ilmu politik di universitas Air Langga.rasanya senang bisa benar-benar masuk dan menjadi bagian dari mimpiku yang telah ku tulis di novel "journal pemimpi"ku.aku rasa aku telah menggenggam sebagian mimpi besarku dan bersiap untuk hal luar biasa setelah itu.ku bayangkan apa yang akan ku lakukan setelah menjadi Mahasiswa ilmu politik.akankah aku berdemo anarkis mengenakan almamater mahasiswa unair,apakah mengkritik kebijakan pemerintah lewat majalah atau koran sekolah (jika ada).melamar pekerjaan menjadi wartawan amatir saat masih kuliah dan berpikir bisa menghidupi diri sendiri seperti apa yang kutulis di "journal pemimpi".
Tiba-tiba terpikir olehku suatu pertanyaan,"bagaimana jika sustu ketika aku tidak diterima menjadi seorang wartawan seperti yg ku inginkan?".apa aku akan menjadi dosen,pengamat politik,ataukah menjadi politikus yang selama ini kuBayangkan akan ku kritik habis habisan di koran yang mau menampung tulisanku.
Aku masih bermimpi mengantungi ID card"pers" dari Media Indonesia.tapi rasanya akan sangat sulit merealisasikannya.aku tidak ingin menyerah,sama sekali tidak,tapi pikiran itu seolah menghantui dan membisikkan bahwa aku telah salah mengambil jurusan ilmu politik.semuanya menjadi rumit.tapi aku tahu harus kujalani itu semua.mungkin akan menjadilebih baik saat aku benar-banar telah tahu apa politik itu.
=ketika aku berpikir telah salah mengambil keputusan,aku menciba membuatnya menjadi benar dengan cara yang benar.:)
Tiba-tiba terpikir olehku suatu pertanyaan,"bagaimana jika sustu ketika aku tidak diterima menjadi seorang wartawan seperti yg ku inginkan?".apa aku akan menjadi dosen,pengamat politik,ataukah menjadi politikus yang selama ini kuBayangkan akan ku kritik habis habisan di koran yang mau menampung tulisanku.
Aku masih bermimpi mengantungi ID card"pers" dari Media Indonesia.tapi rasanya akan sangat sulit merealisasikannya.aku tidak ingin menyerah,sama sekali tidak,tapi pikiran itu seolah menghantui dan membisikkan bahwa aku telah salah mengambil jurusan ilmu politik.semuanya menjadi rumit.tapi aku tahu harus kujalani itu semua.mungkin akan menjadilebih baik saat aku benar-banar telah tahu apa politik itu.
=ketika aku berpikir telah salah mengambil keputusan,aku menciba membuatnya menjadi benar dengan cara yang benar.:)
Langganan:
Entri (Atom)








